Sunday, January 28, 2007

Jadikan Customer Raja

Provit itu lebih berarti efek dari akibat praktik bisnis yang mengutamakan kepuasan customer. Jadi disini "Customer is The King" seharusnya bukan semata-mata hanya sebatas slogan saja namun memang menjadi salah satu key factor yang sangat menentukan atas apa yang akan perusahaan peroleh secara jangka panjang. Karena yang ada banyak perusahaan yang mempunyai slogan akan keberpihakann mereka kepada customer namun dalam praktiknya tidak mencerminkan. Sering kali kita terjebak bahwa Good Quality Product dengan How to Give itu saling berdiri sendiri. Apalagi jika kemudian secara sederhana diinterpretasikan oleh pemilik produk dan sole agent produk tertentu bahwa dengan memiliki produk berkualitas bagus dan satu-satunya sudah akan membuat customer datang untuk membeli dan menjadi tidak sensitif lagi terhadap How to give excellent service a customer. Padahal yang perlu diingat, satu-satunya tidak selalu berarti tidak ada yang meniru (bukan untuk produk konsumer) dan bahkan yang bukan agen tunggal pun bisa memperoleh dan menjualnya kepada customer yang sama bahkan dengan harga yang lebih murah. Lantas seperti apakah seharusnya?
A Good Quality Product is the only Ticket
Siapa yang berani memastikan bahwa produk yang bagus akan selalu menang? Bukankah ibarat sedang mengikuti sebuah pertandingan produk yang bagus hanya sekedar sebuah karcis saja untuk bisa ikut andil dalam sengitnya kompetisi? Siapa yang berani menjamin dengan mengandalkan produk yang bagus saja anda akan keluar sebagai pemenang? Celakanya lagi jika misal dalam level manajemen sebuah perusahaan yang berlabel sole agent lebih-lebih yang bergerak dalam scope Sales, After Sales dan Service sekaligus, terkontaminasi arogansi atau mungkin malah bentuk dari rasa takut jika not reach of out and touch of target sehingga outputnya adalah arogansi bahwa andalah satu-satunya pemain dalam sebuah pertandingan sehingga menjadi tidak sensitif lagi terhadap hal-hal yang akan berakibat negatif kepada customer satisfaction yang menjadi tujuan. Karenanya haram menerima tawar dari customer, bernegosiasi dengan customer adalah melacurkan diri, barang yang sudah dibeli tidak bisa ditukar lagi diinterpretasikan secara saklek! Ngga tahu lagi deh jika sudah seperti itu, mungkin kita hanya akan (masih akan) memiliki pangsa pasar saja namun tidak akan bisa membuat produk atau jasa kita memiliki posisi di benak customer meski sebaik apapun produk dan betapa unggulnya jasa kita. Sekali lagi profit adalah hasil implikasi dari dari praktik bisnis yang mengutamakan kepuasan customer yang sendirinya akan menumbuhkan brand loyalti, brand awareness meski tidak bisa didapat secara instan.
Apalagi sekarang menjadi susah sekali menyatukan korelasi antara produk berkualitas adalah wajar jika dipatok dengan harga yang selangit. Dengan pengertian customer loyal menjadi tidak sensitif lagi terhadap harga. Padahal begitu banyaknya kemudahan dan pilihan bagi customer untuk memenuhi kebutuhannya jika kita hanya mengandalkan dan berlindung pada produk kita yang genuine dan berkualitas. Yah... mungkin kita hanya akan gigit jari karena teori ini sudah expired dan menjadi menyesatkan.
To Serve a Customer
Customer loyal sekarang tidak lagi akan bilang, "Semahal apapun produk anda akan tetap saya beli karena kualitas produk anda lebih unggul" Namun customer loyal sekarang akan bilang, "Saya tidak membeli harga dari produk anda karena jelas lebih mahal, tapi saya memutuskan tetap membeli karena layanan anda lebih memuaskan". Nah lho... !! Bagaimana kita bisa menyentuh sisi emosional customer dengan memberikan pelayanan yang prima ternyata lebih efektif dibanding jika kita hanya mengandalkan produk berkualitas dan genuine sebagai strategi untuk menang. Karena apa, jika teori elastisitas harga suatu produk parameternya adalah diukur dari produk kompetitor sejenis tentu tidak akan ada customer yang selalu loyal kecuali ada perbedaan harga antara produk sejenis yang sama-sama berkualitas secara signifikan. Apalagi jika hanya mengandalkan produk berkualitas saja sedang diferensiasi produk-produk yang ada tidak terlalu signifikan tentu lebih jarang ada customer yang loyal karena tidak ada resiko bagi customer untuk berganti ke lain produk. Nah, sekarang apa yang lebih masuk akal adalah bagaimana membuat customer membeli bukan hanya karena alasan fungsi, harga dan kualitas produk atau jasa saja melainkan karena ada alasan lain yang lebih mendasar seperti kepuasan customer karena pengalaman customer akan layanan kita yang prima.

Sunday, January 14, 2007

Beda antara Glowing dengan Over Heating


Memiliki engine apapun bentuk aplikasinya, adalah sama dengan kita sedang memelihara sejuta permasalahan. Apa artinya, bisa dikatakan tanpa dukungan dari agen sama juga pemilik engine sedang melakukan "Suicide Action".

Hari Minggu pagi-pagi lagi, telepon saya sudah mulai berkaong-kaong, dalam hati pengin sekali saya tidak mengindahkan, karena mungkin akan lebih polite rasanya tidak mengangkat telepon daripada tidak mengaktifkan telepon. Disamping kita bisa lebih gampang beralibi, takutnya setelah kita aktifin telepon lagi, tiba-tiba bersamaan sms masuk yang bunyinya, "mas, kalo pengin hp nya awet.. ga perlu terlalu sering dimatikan, lebih baik simpen aja di kulkas ato fresher," nah loh lebih sadis lagi kan, he.

Akhirnya saya hampiri juga telepon saya, ternyata teman saya (bc : relasi. Meski beliau lebih suka dipanggil temen daripada relasi. Lebih familiar katanya..) yang telepon. Beliau juragan 7 kapal penangkap udang dengan engine milik pabrikan engine dari Amrik ber ikon huruf " C " yang beroperasi di perairan Arafuru. Diseberang sana dia lantas bilang, " mas, kalo main engine saya overheating komponen apa saja yang akan bermasalah?" Saya lalu bilang, wah hati-hati bos baru saja KM. Senopati... saya belum selesai berkata-kata, dia sudah menyahut, "Pemay ngana!! He... ga ding, teman saya itu bukan tipikal orang yang suka misuh, maaf !

Saya bilang pada teman saya itu, teman is teman but bisnis is bisnis, mungkin sedikit yang akan saya sampaikan, tapi yang sedikit itu paling tidak akan bermanfaat setidaknya tragedi KM. ... belum selesai saya berkata-kata, lagi-lagi dia sudah menyahut, "Pemay ngana! He he... sorry juragan !!(iya dong, karena advice yang komplet charge nya juga akan lain, he.. komersil banget)

Ada dua indikasi yang sudah disebutkan oleh teman saya itu mengenai Over Heating pada main engine kapalnya. Pertama visual turbocharger yang berpijar atau glowing. Glowing itu sendiri pun ada banyak macamnya, ada glowing yang terjadi hanya pada housing turbochargernya (exhaust) saja dan itu wajar. Ada juga glowing yang terjadi sampai elbow exhaust dan ini sudah dalam kategori tidak wajar. Tapi Glowing adalah tidak sama dengan over heating. Karena penyebabnya adalah berlainan. Glowing lebih banyak disebabkan tidak normalnya air system juga fuel system. Solusinya cukup dengan Repair Turbocharger dan change atau injector calibration.

Namun jika indikasinya ditemukan ketidak normalan pada sirkulasi cooling system bisa dipastikan engine itu overheating. Untungnya setiap engine sudah dibekali oleh system safety yang memadai untuk mengidentifikasi terjadinya overheating. Tapi safety adalah tetap safety yang fungsinya hanya menghindari kerusakan yang lebih berarti. Yang tentunya akibat overheating itu sendiri akan sedikit banyak mempengaruhi kondisi komponen engine seperti Piston, Ring Piston juga Cylider Liner. Ada baiknya dilakukan Top Overhaul setelah terjadi Over Heating untuk memastikan seberapa besar kerusakan yang terjadi. Karena bagaimanapun juga harus dilakukan repair untuk mengganti gasket-gasket, seal-seal air yang pastinya akan ikut rusak akibat Over Heating.