Aku panggil dia Rena ....
terkadang aku juga panggil dia si Kancil karena dia cerdik juga cantik. Rena kecil, suka sekali dipanggil si Kancil, dia selalu tersenyum, tertawa ... lantas dia bilang, " kalau Rena si Kancil Oma jadi apa uk Yan"? 
Kalau Rena si Kancil berarti Oma jadi bu Tani Ren.
"Bu Tani uk Yan?"
"Iya", kataku. 
Kemudian dia pun berlari-lari sambil berteriak kegirangan, "asyik Oma jadi bu Tani ... Oma jadi bu Tani!"
Itu dua-tiga tahun yang lalu, tapi sekarang nggak tau kenapa ... Rena selalu complaint jika dipanggil Kancil. "Nggak ah uk Yan, Rena nggak mau dipanggil si Kancil. Rena mau dipanggil Rena aja", katanya merajuk.
"Kenapa Cil?", kataku.
"Kok kancil lagi tho uk Yan, pokoknya nggak mau, Rena kan punya nama", jawabnya pelan tapi diplomatis.
Glek,.. saat itu tiba-tiba aku jadi tidak bisa berkata-kata, seperti ada sesuatu yang menyumpal tenggorokanku, nggak tau kenapa keseriusannya mendadak membuatku menjadi terharu.
Lama sekali aku mikir sampai akhirnya aku mampu menyimpulkan sendiri kenapa. Mungkin ini karena masalah image pikirku. Rena ogah dipanggil Kancil karena image Kancil yang diusung oleh dongeng-dongeng sebelum bobo adalah buruk. Meski pintar dan cerdik, Kancil adalah makhluk yang nakal, bandel, suka mencuri dan suka memakai kecerdikannya untuk menjahili teman-temannya. Aku menjadi makin terharu, karena Rena seperti sedang bilang kepadaku ...
Sunday, February 18, 2007
Si Kancil
Permalink | 0 comments |
Labels: Untuk Rena
Keluar dari lingkaran
Adalah salah jika mengira kita sudah berjalan sangat jauh, kata teman saya sore itu. Terkadang kelelahan memang pintar mengelabui, seakan kita sudah berjalan sangat jauh, telah banyak yang kita lakukan, padahal sebenarnya kita cuma berjalan berputar-putar dalam lingkaran yang kita buat sendiri. Tidak ada yang salah dengan system, tapi jika segala permasalahan atau kendala internal sudah terlalu menyibukkan, menyita waktu atau malah membuat kita takut akan resiko bertindak salah tentu sudah tidak benar. Karena kapan lagi kita akan melesat keluar dari dalam lingkaran?
Bayangkan jika permasalahan atau kendala internal sudah membuat kita under pressure, bagaimana otak kita akan berkompromi untuk membuat terobosan? Bukankah agresifitas mencipta terobosan adalah harga marketer yang paling mahal? Bukan sebuah kemampuan yang terberi, diberikan atasan atau bahkan Tuhan begitu saja, tapi kemampuan yang terbentuk sedikit demi sedikit belajar dari perjalanan juga pengalaman. Lantas apa jadinya jika kemampuan itu menjadi terkebiri?
Jika sebelumnya sudah biasa “rumput tetangga akan selalu tampak lebih hijau” kita artikan sebagai penghiburan atas apa yang sudah kita berikan untuk kepuasan customer baik itu waktu, support, respon, kepekaan kita terhadap keinginan customer selalu tampak kurang dibanding kompetitor padahal kita sedang mencoba mengatakan pada diri kita sendiri bahwa yang kita lakukan sudah excellent. Sehingga dengan sengaja pikiran kita akan membentuk suatu pola yang membuat kita merasa puas lebih dini karena tentu muncul pemahaman apapun yang kita lakukan tidak akan pernah ada kata sempurna. Tapi sekarang, harus benar-benar kita artikan sebagai ancaman bahwa jangan sampai rumput tetangga menjadi lebih hijau dari penglihatan kita lebih-lebih dalam penglihatan customer.
Yach, mungkin salah satu cara agar kita bisa secepatnya keluar dari dalam lingkaran setan itu adalah menyadari kompetisi semakin tidak ada kompromi apalagi untuk sekedar menunggu kita yang bukan mencari solusi tapi malah sibuk berkelahi yang tidak penting, mendramatisir segala situasi yang terjadi didalam lingkaran kita sendiri. Bukan yang penting kita menang karena kemenangan, kita harap tidak hanya terjadi sekali ini tapi bagaimana kita menang sehingga kita bisa menang lagi dilain kali.
Permalink | 0 comments |
Labels: Sok Marketer






